Makna

Mengenai Saya

Foto saya
Medan, Indonesia
Simple Personality
Tampilkan postingan dengan label Artikel Lepas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Lepas. Tampilkan semua postingan

Apa Itu Cinta?

post on: Sabtu, 07 Mei 2011
cintaLagi tentang cinta :D Apa cinta itu?

Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab.

Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan.

Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian.

Mereka yang mencintai, menyebutnya takdir.

Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji kita.

Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmah-Nya bisa tertanam dalam.

Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan dibaliknya.

Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti termasuk saya sendiri :D namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.

Mengapa menunggu?

Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa.

Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.

Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu.

Kata orang bijak, jika ingin berlari, belajarlah berjalan duhulu.

Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu.

Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.

Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.

Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.

Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.

Perlu diketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam.

Kota Roma tidak dibangun dalam sehari.

Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan.

Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.

Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, dan penantian kita tidaklah sia-sia.

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal yakni iman, keberanian, dan pengharapan.

Penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan.

Pada akhirnya juga, Tuhan dalam segala hikmah-Nya, meminta kita menunggu, karena alasan yang penting.

(Sumber)

Memaknai Kritikan dan Hinaan Dengan Bertanya Kepada Diri Sendiri

post on: Selasa, 19 April 2011
imageManusia bukanlah makhluk tanpa ketercelaan, begitu banyak kekurangan dan keterbatasan yang menjadikan manusia tak layak mendapatkan predikat sebagai makhluk yang sempurna, ketidaksempurnaan itulah yang mengharuskannya menjadi bagian dari kesatuan integral komunitas sosial, namun peran yang dijalankan dalam kompleksitas kehidupan, interaksi sosial, yang dilalui antar manusia terkadang mampu menyembunyikan keterbatasan akan kemampuan manusia..

Manusia memiliki yang namanya ego, nafsu yang dapat mengejawantahkan dirinya dalam bentuk kesombongan, sikap merendahkan, sikap yang merasa paling benar, sikap yang selalu ingin menang sendiri, keras kepala, dan sikap tak terpuji lain….

Dengan ego yang berlebihan kadang manusia menjadikan pembenaran kelebihan dirinya untuk menghina, merendahkan orang-orang dibawahnya, mereka cenderung tak menghargai dan disimpatik terhadap sesama manusia baik dalam perbedaan pandangan maupun status.

Sikap-sikap ini adalah represi manusia akan keterbatasannya, sikap pengecut dan ketakutan dari banyak manusia bahwa mereka disamping dianugerahkan kelebihan mereka juga secara nyata memiliki berbagai kekurangan, peran yang diamanahkan oleh Tuhan kepadanya telah membutakan dirinya, kelebihan yang dimiliki yang seharusnya diexploitasi maksimal dalam proses “olah” peran dirinya, malah berpotensi menjadikannya menjadi sombong dan merasa lebih baik dari orang lain…

Kadang seorang manusia harus sadar diri siapa dirinya apa kekurangnnya, janganlah terlalu terlena akan kelebihannya, dan jangan menilai orang lain lebih hina hanya karena kelebihan yang dimilikinya.
Kritik, adalah salah satu cara yang kadang akan menjadi teguran akan ketebatasan dan kekurangan yang harusnya disadari….

Orang yang sudah diBUTAkan akan kelebihan akan lupa akan betapa BESAR kekurangan yang ada pada dirinya…
Dia akan melihat sebuah KRITIK yang penuh dengan hikmah pendidikan ego sebagai Penghinaan, padahal kritiklah yang menjadikan kita lebih baik sebagai manusia seutuhnya, manusia yang menyadari betapa besar keterbatasannya dihadapan hatinya takkan mampu memisahkan sebuah kritik penuh makna dengan penghinaan yang menjatuhkan…….

Namun kadang kita yang mengkritik juga kadang terlalu emosional hingga menjadikannya bertendesi sebagai hinaan……

Nah evaluasi diri juga harus…
Itu PENTING…..sblm kita mengkritik orang lain...bercermin kepada diri sendiri juga HARUS dilakukan, menyelami kekurangan pribadi dengan bertanya secara mendalam juga mesti dilakukan….
Karena kritik yang dilontarkan tanpa niat dan dasar kebaikan hanya akan menujukkan betapa kotornya isi pemikiran yang kita miliki…. Seperti yang ditulis oleh Aristoteles dalam De Interpretatione “Bahwa kata-kata yang kita ucapkan adalah simbol dari pengalaman mental kita, dan kata-kata yang kita tulis adalah simbol dari kata-kata yang kita ucapkan”.

Walau bagi manusia-manusia yang sudah menemukan kejernihan hatinya, mampu menyerap arti penghinaan sebagai sebuah permata yang berharga sebagai penghinaan atas egonya sendiri, bukan memandangnya sebagai tindakan yang merendahkan martabatnya sebagai manusia, atau menjatuhkan hakikat dirinya sebagai seorang manusia…..

Hati manusia bagaikan sebuah danau, perbandingan antara insan yang sudah tertutupkan oleh hitam egonya dengan manusia yang sudah menemukan jati dirinya melalui renungan mendalam adalah seperti danau hitam yang penuh dengan kotoran dan kebusukan bagi insan yang tertutupkan oleh kabur ego, mereka takkan mampu melihat keindahan dari dalamnya danau dan rahasia dibalik permukaan yang sudah menghitam, sebuah kritikan atau hinaan yang pada hakikatnya mencoba menjernihkan sudut danaunya dianggapnya hanya akan merusak tatanan warna hitam pada danau hatinya, mereka sudah terlalu terbuai akan pesona hitam dan legam yang beriak di permukaan.

Sedang, bagi manusia yang sudah menemukan jati dirinya, hatinya seperti danau jernih hingga butir-butir kilau mutiara di dasar danaunya terlihat begitu nyata dalam pandangannya. dia mampu memandang pesona keindahan di kedalaman airnya menganggap kritikan bahkan hinaan seperti teguran peringatan dari Sang Penjaga Alam bahwa saat itu dia diberikan kesempatan untuk lebih memutihkan dan menjernihkan air danau yang melingkupi hati yang dimilikinya….

Bagi orang-orang ini, bukanlah pujian yang mereka harapkan, mereka adalah orang-orang yang berani berkata “Hinalah aku sesukamu…“ , dikarenakan begitu luasnya dan dalamnya samudera hati yang dimiliki oleh mereka…..

Sayangnya untuk menjernihkan hati tak cukup dengan syair-syair berbagai panjat doa dan dengan membaca berbagai kalimat-kalimat motivatif dari tokoh tenar manapun, berbagai quote-quote dari Rasulullah, Ibrahim bin Adham, atau tokoh-tokoh sufisme lain yang pada dasarnya ditujukan memberikan trigger dalam mengkoreksi diri, SUNGGUH TAKKAN pernah BERGUNA, jika tak ada kemauan kuat dan berbagai pelatihan yang konsisten dari pribadi kita sendiri untuk terus mengevaluasi diri dan menyadari bahwa kita selalu memiliki kekurangan……

Karena doa yang tak terserap nyata dalam relung-relung penghayatan hati HANYA akan menjadi sebuah lantunan kata-kata kosong yang kehilangan makna…..

Jadi seberapa jernihkah danau yang ingin kita miliki…?

Tak tertarikkah kita untuk menikmati misteri pesona danau keindahan yang tersembunyi oleh pekat gelap ego kita?

Apakah kita sudah begitu sempurna saat orang lain “menghadiahkan” hinaan sebagai teguran yang menyadarkan kembali akan ketidak berdayaan kita dan ketidak-sempurnaan diri kita, lalu ego kita dengan sombong mengelaknya?

Atau sudah begitu sempurnakah kita saat merasa pantas melontarkan kritik dan hinaan kepada orang lain, padahal begitu besar ketercelaan yang sering kita lupakan?

Mari kita saling belajar Saudaraku.... Untuk mengkritik (menghina) dengan kerendahan hati dan menerimanya dengan sikap santun tak menjustifikasi kembali……

Karena saat kita menghina atau mengkritik saudara kita, kita takkan pernah tahu… Apakah kritik yang kita lontarkan pantas kita sematkan kepada orang lain, atau sikap ketercelaan yang kita lah yang saat ini kita coba hindari dengan mencoba mengkritik orang lain, karena seringkali hinaan yang kita utarakan menunjukkan betapa kotornya hati kita…….. Orang lain adalah cermin dari pribadi kita…..


(Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab melalui perenungan dalam kesunyian, sendiri dalam kesenyapan, dan dalam kontempelasi mendalam….…..)


Sumber : disini

Soal Alay

post on: Jumat, 04 Maret 2011
(1) 1Lmu p3N6Et4hu4n d15u5un
4TA5 da5AR t3or1-T30RI Y4n6
5Udab 4D4 4t4u d1p3rba1ki,
d1P3rLUA5 53rt4 m3mP3rkU4t
t30R1-T30r1 y4n6 l4ma.
P3my4t44n T3R53but
m3nunjUkk4n b4HW4 50s10l0g1
bEr51F4t ...
a. 3mp1R15
b. T30r1t15
c. kumuL4t1f
d. n0N3t15
e. m3t0d0LOgi5
(2) brkt in Sbah pristiW yng
mnGgmbrkaN prOsS SSIalisas
tdak smprN, kclI ...
a. aNk-nk yang hdp d bwH
tKnan Ayh dN ibuny yang BerCRi
b. ank-ank yNg diPrLAkkN tdk
ADl oLh kd orAng tAnY
c. srANg aYH yNg SbUk mEncRi
nfkh, ib ynG hduP mnCar kpusN
d Lar dn ANk YnG mNjadi krbAn
Tdk mEndaPat ksh synG ynG pnh
dar Kdu ornG tNY
d. SRnG anak yng TrLl dimNj olh
keda orng Tny, Segal knGnn hars
dpnh, Dn stlh dwsA cndernG
mnghLalkan sGAL Cr asl
KnGinnny trcap
e. gy Hdp SraNg aNk yng
TrpeNgaNh oLh tmn D SKTrNy,
mislNy mbk-mbUkn, FR Sex,
pnGgunAn obt tRlRng
(3) BaG orng indnsa Yng mngnt
adt Tmur bRplkn dAN Bercmn di
mk umM ADlh tb, krN Tlh
mlangGar Norm ...
a. ksSln
b. kbiaSan
c. Hukm
d. aGama
e. KSPnN
(4) 53bab-53b4b k0nfl1k
MenurUt 503rjono 503k4mt0,
K3cu4L1 ...
A. perb3Daan 4NT4ra 1ND1v1dU
b. adanYA PeRt1K414N
c. k3BuD4y4aN
d. p3rb3daan k3pENtiN64n
e. p3Rub4han so514l P3rb3dA4n

:D :D :D

Sumber :
Kaskus

Lelaki dan Air Mat

post on: Kamis, 03 Maret 2011
Rasanya mungkin aneh sewaktu saya mengatakan pada seseorang
"Ayolah kawan,
menangislah, Jangan simpan tangismu kalau memang ada yang ingin kamu tangisi".
Mungkin (lagi !) hal tersebut tidak akan menjadi aneh kalau saya mengatakan hal tersebut pada seorang teman wanita, tapi masalahnya saya mengatakannya pada seorang teman lelaki. Namun, apakah pendapat seperti itu memang benar ataukah salah?
Tapi satu hal yang pasti, saya mengatakan hal tersebut bukan lantaran ingin menunjukkan saya lebih tegar dibanding dia dan ingin menunjukkan kelemahannya, atau biar saya bisa berbicara "
ternyata dia seorang yang cengeng" atau pendapat-pendapat yang bertendensi melemahkan kaum lelaki lainnya.
Tentu saya tidak berani, sebab
dia ataupun kaum lelaki lainnya
pasti tidak menyukai hal tersebut dan saya pasti akan mendapatkan kritik yang begitu banyak.

Airmata itu bukan hanya milik kaum hawa saja.
Airmata hanya bisa keluar dari kehalusan perasaan ketika bersentuhan dengan hal-hal yang mengusik hati nurani kita. Tangis dan airmata tidak lantas identik dengan wanita. Namun demikian, bukan berarti lelaki itu makhluk yang tidak punya perasaan, cuma kadarnya saja yang berbeda. Yang jelas, secara umum laki-laki itu lebih "miskin" perasaannya dari pada wanita.

Lelaki yang gampang menangis juga bukan lelaki banci, dan tentu saja predikat ini sungguh sangat merendahkan derajat dan martabatnya serta sangat menyinggung harga dirinya sebagai makhluk yang (maaf) superior, sehingga menangis adalah hal yang tabu dan pantangan bagi laki-laki. Maka, sebagai laki-laki harus tahan dalam situasi apapun, jangan sampai ada butir-butir bening yang menetes dikedua pipinya, apalagi sampai dilihat orang lain. Kurang proporsionalnya laki-laki dalam memandang tangis dan airmata ini pada akhirnya akan menjadikan kaum lelaki bertambah "miskin" kehidupan emosionalnya. Sehingga sosok yang tampak adalah sosok yang kaku, penuh dengan perhitungan-perhitungan, matematis dan jauh dari sosok yang lembut hati

Lelaki boleh menangis dan tetesan air matanya bukan sesuatu hal yang tabu untuk disaksikan, selama tangisannya bukan karena kecengengan, tapi menunjukkan betapa halus dan lembutnya persaan yang ia miliki. Kehalusan dan kelembutan perasaan ini, sama sekali tidak akan mengurangi sosok pribadi yang tegar dan tegas, tapi justru akan menjadian ia sebagai sosok pribadi yang ideal untuk dijadikan teladan bagi orang lain. Sebab kehalusan dan kelembutan perasaan akan menghasilkan sikap sabar, sedangkan ketegaran dan ketegasan akan menghasilkan sifat benar, sementara sabar dan benar adalah dua pilar yang harus dimiliki oleh laki-laki yang ingin sukses menjalankan fungsi ke-qowam-annya.

Memupuk sikap benar dengan mengenyampingkan sifat sabar, menyebabkan sayap' ke-qowam- an menjadi tidak seimbang. Mengasuh kehalusan, kelembutan, dan kepekaan rasa, sebenarnya bukan hanya untuk kaum wanita, sebab dalam batas yang proposional menjadi hal yang harus dimiliki juga oleh laki- laki. Misalnya dalam hal kewajibannya mendidik wanita yang menjadi istrinya, maka mau tidak mau dia harus menyelami kehidupan emosional dan karekteristik perasaan istrinya, sehingga dia akan mampu 'mengendalikan' istrinya itu. apalagi bila istrinya itu memiliki karekteristik yang khas dan sedikit 'rumit', tentu saja ini semua membutuhkan kepekaan rasa.

Demikian juga tangis dan air mata, bukan hanya milik wanita, tapi juga milik laki-laki. Maka, jangan simpan tangismu wahai lelaki, bila ada sesuatu yang membuat kau ingin menangis, sebab tangis tidak selamanya identik dengan kecengengan kalau itu benar keluar dari kehalusan dan kelembutan rasa. sementara kehalusan dan kelembutan rasa bukan hanya milik kaum wanita, tapi juga milik lelaki, sebab adalah sesuatu yang universal, setiap orang pasti punya meski dengan kadar yang bebeda.
Wallahu A'lam bisshawab.

Sumber
dìsini

Liputan6 - Aktual Tajam dan Terpercaya: RSS 0.92

Powered by blogger.com
Black V3 Mobile Template